DUM VITANT STULTI VITIA
IN CONTRARIA CURRUNT....

Damar's posts with tag: pengacara baik?

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag pengacara baik?
ReviewReviewReviewPRIMAL FEARJan 3, '08 2:02 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Alkisah di sebuah kompleks perumahan pegawai pos tinggal seorang janda tua bernama Mrs. Linda Taylor. Suami dari Mrs. Linda yakni mendiang Mr. Thomas Taylor dulu adalah seorang tukang pos yang rajin dan baik hati. Atas prestasi dan pengabdian dari Mr. Thomas semasa hidupnya maka pihak kantor pos tetap mengijinkan Mrs. Linda untuk tinggal di rumah itu. Padahal seharusnya rumah itu hanya diperuntukkan bagi pegawai yang masih aktif bekerja. Namun khusus untuk mereka, pihak kantor pos mengijinkan tinggal selama yang mereka mau.

Mr. Thomas Taylor telah pensiun duapuluh tahun yang lalu dan kemudian baru meninggal lima tahun yang lalu. Ini berarti bahwa Mrs. Linda telah lima tahun menjalani hidup sebatang kara. Mereka berdua tidak memiliki keturunan. Sanak famili pun mereka hampir tidak punya karena secara kebetulan mereka berdua adalah yatim piatu sejak kecil. Satu-satunya keluarga yang dimiliki hanyalah Paman dari Mrs. Linda yang tinggal di utara. Tentunya Sang Paman itu kini telah meninggal dunia (waktu Mrs. Linda berumur 5 tahun, pamannya itu berusia kira-kira 40 tahun, dan sekarang Mrs. Linda berumur 70 tahun).

Sehari-hari Mrs. Linda menyulam dan merawat bunga lili yang tumbuh di halamannya. Sesekali dia berjalan mengitari blok dan menyapa anak-anak yang sedang bermain di lapangan basket. Meski telah berusia 70 tahun, Mrs. linda masih cukup sehat dan waras. Dia tidak memakai tongkat ataupun kacamata. Suaranya masih cukup jelas dan lantang.

Di suatu sore ketika sedang berjalan-jalan menikmati cahaya senja, Mrs. Linda melihat dua anak kecil tengah berkelahi. Usia mereka kira-kira 7 tahunan. Sembari berlari ke arah anak-anak itu, Mrs. Linda berteriak, "Hentikan berandalan cilik......!!!" Namun anak-anak itu tak menghiraukannya.

"Sejuta topan badai! Hentikan sebelum kuhantam muka kalian dengan nisan suamiku!", anak-anak itu pun terdiam.

"Kau, Kepiting Rebus! Kenapa kau pukul dia, heh? Memangnya mukanya belum cukup jelek sampai harus kau tambah jelek dengan benjolan dan memar?", tanya Mrs. Linda pada salah seorang anak yang bernama Marno.

"Dasar berandalan tengik, mau jadi apa kalian kalau sudah besar nanti, hah!!!"
Marno dan rivalnya yang belakangan diketahui bernama Totok tetap diam terpaku.

"Heh, anjing kecil jahanam! Kuperingatkan pada kalian ya, sekali lagi aku melihat kalian berkelahi, aku copot mata kalian lalu aku umpankan pada anjing Pak RT...", Marno dan Totok menunduk.

"Heh kau, hitam dekil!", bentak Mrs. Linda seraya menampar pipi Totok. "Kau pasti mewarisi sifat brutal brandalan semi-kriminal ini dari ayahmu. Sudah aku duga kalau bajingan seperti ayahmu yang dulu pernah mencuri kue pai di dapurku saat hallowen tahun 1969 pasti akan melahirkan keturunan yang tak lebih baik darinya. Dasar pencuci kakus busuk!"

Totok terisak.

"Dan kau keriting berpanu anak tukang jilat jidat pejabat!", bentak Mrs. Linda pada Marno."Jangan kau pikir karena ayahmu kaya dan berpangkat tinggi lalu kau bisa seenaknya saja memukul temanmu yang jorok, dekil, kampungan lagi idiot ini. Apakah ayahmu tak pernah memukulmu, hah!!!!", teriak Mrs. Linda sambil menendang pantat Marno dengan keras hingga nyaris terjerembab.

"Kenapa kalian seenaknya memukul orang. Kalian ini tidak pernah merasakan sakitnya dipukul orang lain ya...?!?!", sambil menjambak rambut kedua anak itu.

"Sakit tidak, Babi borok...?!?!", Mrs. Linda membenturkan kepala kedua anak tersebut dengan sekuat tenaga.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help