| |
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Alkisah, adalah Dicky seorang pemuda tampan yang hidup bersama ayahnya yang seorang pecandu infotaintment lokal. Mulai dari gosip perceraian pejabat sampai jumlah tahi lalat penyanyi dangdut asal Brebes dia hapal. Tak banyak yang dilakukan Dicky di rumah setiap hari selain bersekolah (kelas 2 SMA), membantu tetangga membuka buka pagar (macet soalnya), dan terus menyembunyikan remote control TV ketika ayahnya lengah. Kegiatan yang terakhir tadi dilakukannya agar ayahnya mau beranjak berdiri dari sofanya (kalau masih boleh dibilang sofa, lebih mirip kue bolu kebanyakan soda pengembang).
Saat ayahnya mulai berdiri untuk bersiap mencari remote TV (sebelumnya marah-marah dulu dengan meneriaki Dicky 'KEPARAT' atau 'ANAK PEREK'), yang dilakukan Dicky adalah buru-buru berdiri di samping ayahnya. Tujuannya untuk mengetahui apakah dia sudah setinggi ayahnya. Dicky tak sabar menunggu tinggi badannya melampaui ayahnya. Sebab mendiang Ibunya pernah berwasiat, andai nanti Dicky sudah setinggi ayahnya maka dia boleh berhenti minum susu domba liar.
Dicky sungguh benci minum susu domba liar, sebab biasanya ada gumpalan wool yang ikut tertelan masuk ke pencernaannya. Hasilnya bisa dibayangkan, kadang ketika berak di pagi hari yang keluar adalah sebuah sweater turtle-neck atau sebuah rompi bermotif polka-dot.
Di sekolah, Dicky dikenal sebagai anak kesayangan guru. Terutama oleh Pak Franklin, guru pelajaran biologi yang berasal dari Bangkok. Saking sayangnya, hanya Dicky yang diijinkan membawa tapir dan kuskus untuk dibedah saat pelajaran anatomi hewan (teman-temannya hanya boleh membawa kodok atau tikus got).
Ketampanan Dicky tidak lantas membuatnya latah untuk menjadi gigolo atau model. Pernah suatu ketika ia ditawari main film layar lebar berjudul 'TIGA ANAK MANIS'. Film yang merupakan biopic dari trio penyanyi cilik populer di tahun 90-an itu dibuat secara kolosal dan berbudget 20 milyar (diproduseri oleh Departemen Pertanian). Alasannya menolak adalah karena film itu lebih mirip penyuluhan pemberantasan buta huruf pada tikus dan wereng (tujuannya agar petani tak perlu menyemprot anti-hama pada sawahnya, cukup memajang papan bertuliskan 'INI BUKAN MAKANAN').
Namun Dicky sempat menyesal karena ternyata film itu meledak di pasaran dan peran yang semula ditawarkan padanya akhirnya jatuh pada Marcella Zalianty yang mana akhirnya Marcella ditawari main iklan sabun colek serbaguna, B-29 .
Padahal Dicky ingin sekali muncul di iklan itu dan memperagakan bagaimana sabun itu dapat mencuci otak ayahnya.... 
| | |
|
|