Asisten rumah tangga di kontrakan saya, Nona E, belum lama ini membeli sebuah telepon genggam. Ketika saya tanya alasannya, dia bilang agar gampang menghubungi adik-adiknya yang ada di kampung dan memudahkan kontak dengan kliennya. Klien-klien yang dimaksud adalah kami yang menggunakan jasanya memasak dan mencuci baju. Kami (para kliennya) yang tersebar seantero kompleks perumahan terkadang suka kebingungan mencari letak keberadaan Nona E.
Pernah selama lebih dari seminggu Nona E tidak menyambangi kontrakan kami. Walhasil, cucian kotor pun menggunung. Hingga pada suatu sore terdengar sura gemuruh dari belakang rumah. Suaranya laksana bongkahan es di antartika yang runtuh. Ketika kami melihat apa yang sedang terjadi, kami mendapati Angga tertimbun longsoran cucian kotor. Rupanya saat dia berusaha menambahkan satu baju kotor di tumpukan, gunung kain itu tak mampu lagi menahan berat beban sehingga akhirnya.... longsor. Alhamdullillah wasyukurillah, Angga berhasil kami evakuasi dengan segera dan lekas siuman berkat teknik CPR yang kami pelajari dari serial MR. BEAN.
Selain meninggalkan cucian kotor, kepergian misterius Nona E waktu itu juga meninggalkan tumpukan piring-gelas-sendok kotor. Kami dengan segera menyadari bahwa pada perabotan makan kotor tersebut telah muncul berbagai peradaban baru. Atas dasar DECLARATION OF INDEPENDENCE dan kemalasan yang teramat sangat, kami tak tega memusnahkan mereka. Kami amati dan kami pelajari mereka dengan seksama.
Koloni ini (jamur dan belatung yang tumbuh pada sisa-sisa makanan) berkembang dengan cepat dan maju. Mereka bukan hanya berkembang dari segi jumlah melainkan juga dalam hal bahasa, tata kota, kesenian, sistem sosial, dan tata pemerintahan. Bahkan pada hari keempat dalam pengamatan kami, mereka telah mengenal konsep AGAMA.... Bayangkan! Namun sebelum mereka mulai menyangka kalau kami ini adalah tuhan mereka, kami putuskan untuk mencuci sendiri perabotan-perabotan makan kotor itu. Dengan demikian berarti kami telah memusnahkan dan menghilangkan PERADABAN JAMUR dan BELATUNG dari SEJARAH PERABOTAN MAKAN kami. Semoga mereka tenang di surga mereka..........
Satu lagi yang diakibatkan oleh kepergian misterius Nona E adalah wabah kelaparan. Biasanya kami setiap hari mendapat kiriman makanan darinya. Tanpa makanan dari Nona E kami ibarat anak ayam kehilangan akal. Tommy tak henti-hentinya mengigau dan menyebut kata lapar dengan suara yang menyayat kalbu. Hendro hanya bisa duduk diam dan meringkuk di sudut kamarnya yang gelap. Angga dan Bayu yang terkenal sebagai duo gendut, nampak seramping Alya Rohali. Rangga yang paling tampan diantara kami, nyaris memakan habis kasurnya sebelum akhirnya tersadar bahwa yang dilihatnya hanyalah sebuah fatamorgana (dia pikir telah melihat kebab raksasa di kamarnya). Sedang saya sendiri nyaris memotong paha kiri untuk dimakan.
Sebelum wabah kelaparan merenggut nyawa kami satu persatu, saya berusaha meyakinkan diri saya sendiri dan mengajak temen-teman yang lain untuk bangkit dan sadar. Awalnya memang sulit mengembalikan semangat hidup mereka. Namun setelah berkumpul bersama, berdebat, berpelukan dengan berurai air mata, kami semua bertekad melawan rasa lapar, kami berupaya tegar, kami tidak boleh cengeng, dan kami sadar bahwa warung makan terdekat hanya berjarak 15 meter dari rumah kontrakan kami.............!